sampai kapan aku bisa bertahan?
bertahan menghadapi situasi buruk dan membuatku terpojok
seperti ini
semuanya kini telah berpaling
dariku
dari diriku
bahkan dia
ya, dia
orang yang biasanya selalu melihatku
saat orang lain tak pernah melihatku
kini orang itu
seolah begitu jauh dariku
begitu asing bagiku
apakah diriku ini
begitu rendah di matamu
begitu hina di pandanganmu
hingga melihatku saja engkau
seolah tak sudi
menganggapku seolah-olah aku ini
adalah penyebar virus
yang super mematikan
mengapa kau lakukan itu?
padahal
aku sangat
sangat
sangat
sangaaaat
mempercayaimu
tapi kau malah membuatku terpuruk
dan semakin terpuruk
orang macam apa kau ini?
beberapa tahun bersamamu
dan aku tak dapat mengenalimu saat ini
kau bukan seperti yang kukenal
yang baik
yang perhatian
yang sangaaat mengerti aku
dan menerimaku
apa adanya
tapi sekarang???
semuanya, semua yang kutahu tentang kamu
hilang entah kemana
kau uang kemana semua sifatmu itu?
sifatmu yang paling kusuka
saat kau menanyakan
apa aku baik-baik saja
saat kau meneleponku
hanya sekedar mengucapkan
sedang apa kamu?
tidakkah kau ingat itu?
Selasa, 13 Desember 2011
Sabtu, 29 Oktober 2011
the survivor me, thanks caf3ine
this is why i can survive until now...
yaah mereka emang gokil dan sifat kita beda jauuuuuuh banget. tapi kayaknya justru itu yang bikin kita makin deket satu sama lain.
yaah ini hasil jepretanku pas di ponpes darussalam. miss these moments so bad !!
ini waktu kita nganterin indot ke bandara, mau ke jakarta terus langsung ke belgia. miss you so much indot !! ndang mbalik yo ndot, jangan betah-betah di sana, entar kamu nggak mau balik lagi haha lol #mekso mode on
![]() |
| ini kameranya sebenernya di mana sih? |
kalo yang ini pas anak tranby mampir kelas kita #masih ada indot loo haha. yaa mumpung ada bule sekalian aja deh jepret :p
thanks guys, you make my life become meaningful :))
penggalauan terakhir
maaf ku jenuh padamu
lama sudah kupendam
tertahan di bibirku
mau ku tak menyakiti
meski begitu indah
ku masih tetap saja
jenuh...
mungkin itulah yang sedang kurasakan, a lil bit of galau haha. emang sekarang kayaknya otakku penuuuuuh banget. rasanya pengen meledak. mulai dari tugas-tugas yang nggak ada habis-habisnya, nilai ulangan yang nggak kunjung naik, sampai masalah cinta yang masiiiiiih aja ngegantung nggak jelas ini. aku juga nggak tau kenapa, tapi setiap aku memikirkan semua hal itu, dadaku tambah sesak, kepalaku tambah sakit, dan rasanya aku pengen ngilang gitu aja dari muka bumi ini.
apa mungkin aku yang berlebihan menyikapi semua 'peristiwa' ini?
sometimes, okay i'm overacting. sering membesar-besarkan masalah, dan nggak bisa biasa menghadapi apapun. tapi apakah aku harus menyikapi orang yang membuatku galau setiap hari dan menyebabkan nilaiku anjlok karena memikirkan dia dengan sikap biasa-biasa aja? non sense !!
emang di sisi lain, aku nyaman dengan kehidupanku. anak tunggal dengan seabrek saudara sepupu yang udah kuanggap saudara kandungku sendiri. orang tua yang sangat sangat pengertian dan berjiwa muda meskipun umur mereka sudah tak muda lagi. five thumbs up for both of you, you're rock mom and dad !! :))
namun di sisi lain, yaa itu tadi.aku juga nggak ngerti kenapa ada cowok yang dengan teganya membawaku terbang setinggi langit, namun kemudian menjatuhkanku ke bumi lagi. sumpah, sakiiit banget. ada kalanya ia membawaku kembali terbang tinggi, namun kembali iamenghempaskanku layaknya sehelai bulu yang sudah tak dia perlukan lagi. emang, aku suka dengan sikapnya yang mudah simpatik pada orang lain, dan selalu menyemangitku saat aku lagi down walaupun dia agak sedikit moody, tapi apa kamu juga harus moody dengan hubungan kita?
kalau memang ada orang lain di hatimu dan orang itu bukan aku, oke fine, aku terima. silakan berbahagia dengan orang itu, aku juga bahagia kalau melihatmu bahagia. tapi kalau memang di hatimu hanya ada aku, seperti yang mereka bilang, just be brave to say, seperti katanya endah dan ressa di lagu mereka. dan aku mohon, don't be looser. sudah cukup ya, aku denger mereka ngejelek-jelekin kamu di depan aku. sudah cukup. buktiin kalau kamu mampu, and you're not a looser, but you're what you want.
semoga suatu saat nanti, kuharap segera, kamu bakal baca tulisanku ini. dan semoga aja kamu ngerti, betapa aku nggak pengen kamu jadi pecundang selamanya di mata orang.
oiya, ternyata bakatku nambah satu loo haha. here it is...
![]() |
| aksonometri haha lol |
yaa mungkin aja kalau aku nggak diterima di fk unair, aku bisa nyabang ke teknik sipil atau at least arsitektur. amin ya Allah O:)
yaah semoga saja kegalauanku bisa ilang dalam waktu dekat. dan semoga siulannya gopar bisa menghiburku seperti dulu hahaha lol. emang deh, siulannya gopar meskipun awalnya mangkelno tapi bisa menghibur juga haha...
welcome to my life :))
Senin, 05 September 2011
most unpredictable Lebaran holiday
liburan tinggal besok
lusa udah masuk sekolah
huh, masih kurang lamaaaaaa :(
nggak melancong kemana-mana
malah ndekeeeem aja di rumah
paraaah O.o
tapi ingatan itu kembali datang
ingatan menyenangkan
yang mengingatkanku kalau
liburan ini nggak separah
yang aku kira
yap, ingatan tentang dia
aku masih sangat ingat
saat itu malam takbiran
aku lagi santai santai sambil meratapi nasib hpku yang malang
dan sibuk membalas sms dari temen-temen yang mengucapkan
minal aidzin wal faidzin
dengan ucapan yang sama
pukul 20.42
hp ayahku yang sementara kupakai tiba-tiba berdering
kulihat siapa yang menelepon
ternyata...
aaaaah aku sueeeeneeeng buangeeet
pengen rasanya aku loncat-loncat
setelah lama nggak pernah nelpon
akhirnya sekarang dia nelpon juga
cepat-cepat kuangkat teleponnya
dan dengan sotoynya keluargaku menyorakiku dengan namanya
entah dia denger itu atau nggak di telepon
aku nggak peduli
yang penting dia nelepon aku :)
tapi percakapan telepon itu nggak berlangsung lama
mungkin sekitar 3-4 menit
kecewa, jelas
tapi kecewa itu segera tertutupi oleh rasa senang yang terlanjur membuncah di dada
hahahaha, rasanya semalam itu bibirku tak henti-hentinya tersenyum
membayangkan percakapan kami tadi
yang sama-sama canggung
atau sama-sama salah tingkah? mungkin juga
yang bikin aku nggak habis pikir
dia meneleponku hanya untuk minta maaf
yaa minal aidzin wal faidzin gitu lah
apa semua orang yang dia kenal juga ditelepon sama dia?
apa nggak tekor tuh?
atau mungkiiiin
hanya aku yang ditelepon?
huaaaah senang sekali mengetahui
kalau aku pandai berimajinasi
selamat selva, selamat
imajinasimu tingkat tinggi
eits, tapi itu juga belum tentu salah kan?
yaah kita lihat saja nanti
bagaimana akhirnya
semoga happy ending
jangan seperti cerita yang biasa kubikin :p
Saat Rasa Ketidakadilan Itu Datang
Akhir-akhir ini banyak banget yang tanya, kenapa aku suka sama lagunya Simple Plan yang Perfect, padahal keluargaku, orangtuaku terutama, kelihatan sangat sayang dan memanjakanku?
Yaaaaaah, aku juga nggak begitu tau kenapa aku jadi suka banget sama tuh lagu. tapi mungkin di dalam hati kecilku yang penuh sesak dengan konflik pribadi dan sosial dalam hidup, masih ada secuil rasa tak adil yang ditunjukkan kedua orang tuaku, antara aku dan **** #yah jangan sebut nama lah, gak etis#
mungkin ini pengaruh aku berada di dalam pengasuhan keluarga dengan anak tunggal, di mana anak tunggal biasanya selalu mendapat apa yang dia inginkan, karena memang dia satu-satunya. tanpa kakak, tanpa adik, tanpa pengganggu besar maupun kecil yang minta kasih sayang dengan porsi yang sama. semua kasih sayang orangtua itu akan jatuh pada si anak tunggal, dalam hal ini, aku sendiri. tapi sejak **** datang, segalanya berubah. kalau sebelumnya orang tuaku selalu melihatku saat aku berjalan di depan mereka, kini tidak lagi. mereka selalu melihat si **** ini. tanpa sedikit pun melirikku. tak pernah mendengarkan ceritaku, tak pernah menghiraukan tangisanku, tak pernah peduli dengan apa yang kukerjakan...
sedangkan dia????? orangtuaku selalu melihatnya, mendengarkannya, menenangkannya kalau dia menangis, dan selalu tertawa dengan guyonannya yang garing.
SEBENERNYA YANG PUNYA ORTU SAPA SIH?????? :(
Itu yang sekarang terlintas di benakku. mereka berdua itu orang tuaku, dan dia juga bukan yatim piatu, dia juga punya ortu lengkap, apa masih kurang??? kenapa dia selalu dapetin apa yang dia mau dan kenapa aku nggak pernah?? orang tuaku selalu menyuruhku mengalah padanya atas apapun, kalian tau, APAPUN. hellloooooo, aku ini jauh lebih muda dari dia, kenapa nggak dia yang harusnya ngalah sama aku, kenapa harus aku yang korban perasaan sih? kenapa semua peristiwa dalam hidupku memerlukan pengorbananku? kenapa aku yang harus disuruh ngalah, ngalah, dan ngalaaah?
yaah untuk meluapkan kekesalan dan kemarahanku, di bawah ini aku tulisin lirik lagu yang aku sebut di atas tadi. semoga bagi siapapun yang baca ini bisa ambil hikmahnya. happy reading :)
#maaf kalo isinya jadi curcol :p
Perfect - Simple Plan
think back and talk to me
did i grow up according to plan?
or do you think I'm wasting my time
doing things I wanna do
but it hurts when you disapprove all along
And now I try hard to make it
I just wanna make you proud
I'm never gonna be good enough for you
I can't pretend that I'm alright
BUT YOU CAN CHANGE ME !!!
Cuz we lost it all
nothing last forever
I'm sorry I can't be perfect
Now it's just too late
and we can't go back
I'm sorry I can't be perfect
I try not to think
About the pain I feel inside
Did you know you used to be my hero?
All the days you spend with me
Now seem so far away
And it feels like you don't care anymore
And now I try hard to make it
I just want to make you, proud
I'm never gonna be good enough for you
I can't stand another fight
And nothing's alright
Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I'm sorry
I can't be perfect
Now it's just too late and
We can't go back
I'm sorry
I can't be perfect
About the pain I feel inside
Did you know you used to be my hero?
All the days you spend with me
Now seem so far away
And it feels like you don't care anymore
And now I try hard to make it
I just want to make you, proud
I'm never gonna be good enough for you
I can't stand another fight
And nothing's alright
Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I'm sorry
I can't be perfect
Now it's just too late and
We can't go back
I'm sorry
I can't be perfect
Nothing's gonna change the things that you said
Nothing's gonna make this right again
Pleae don't turn your back
I can't believe it's hard
I can't believe it's hard
Just to talk to you
But you don't understand
Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I'm sorry
I can't be perfect
Now it's just too late and
We can't go back
I'm sorry
I can't be perfect...
I'm sorry
I can't be perfect
Now it's just too late and
We can't go back
I'm sorry
I can't be perfect...
Sabtu, 27 Agustus 2011
3 taun yang penuh makna. cekidot !!
huaaa gak kerasa. udah mau kelar nih sekolah. bentar lagi, tepatnya sih taun depan, masa depan kita akan ditentukan dengan 6 hari unas dan beberapa hari snmptn. awalnya sih ngerasa gak adil. kenapa gak adil? soalnya 3 taun kita kerja keras banting tulang dan banting setir mengejar POIN dan nilai bagus, biar rapot kita juga bagus dan enak untuk dilihat, eh ujung-ujungnya nasib kita ditentukan dengan ajaibnya oleh kertas-kertas ljk itu. dan gak cuma aku lho ternyata yang ngerasain ketidakadilan ini, beberapa temenku juga. alhamdulillah ada temennya hehe
untungnya, yap bener, UNTUNGNYA aku punya 30 ekor, eh salah, orang deng hehe, 30 orang-orang hebat yang selalu bikin hidupku gak gitu-gitu aja isinya. rasanya kayak es campur gitu deh dalemnya. sumpah beragam banget karakternya, ada yang berjiwa pemimpinnya keliatan banget, ada yang childishnya keterlaluan (nah loh, kontras banget toh), ada yang setiap harinya bikin guyonan yang kadang-kadang juga nyelekit dan rasanya mak jleb di hati, bahkan ada juga yang sensinya minta ampun. tapi dengan sifat kita semua yang gado-gado itu, aku gak pernah ngerasa risih, bahkan gak nyaman dengan mereka. justru itu yang bikin kita makin deket, kayak saudara gitu deh hehe. yah, 30 orang ini, termasuk aku, bernama caf3ine :D
pertama kali aku masuk kelas X-3, asli aku ngerasa gak comfort sama anak-anak kelasku, itu awalnya. wajahnya keliatan pinter-pinter, jangan-jangan aku nanti di sini paling goblok, itu yang terlintas di pikiranku saat itu. pas aku dateng pagi itu, ternyata udah banyak yang dateng. dan aku liat semua bangku penuh, cuma tersisa satu di samping anak perempuan bertampang chinese yang akhirnya aku tau bernama mitha (mit ampun mit, gak bermaksud rasis, tapi emang itu yang ada di pikiranku pas itu :p). setelah aku tau nama temen di sebelahku, aslinya aku muales kenalan sama dua cowok yang duduk di depanku, jadi ya gak kenalan :p. yaa aku mulai ngapalin nama temen-temenku satu-satu pas wali kelasku ngabsen kita. apalagi pas aku tau kalo kita bakal 3 taun barengan. what?!?! 3 taun bareng? gak salah tuh? apa gak bosen?
memang, aku agak shock denger kabar itu. helooo, 3 taun gitu barengan, gak pisah gak apa. tiap hari ketemuuuu terus. yaa maklum lah, pemikiran anak smp, gak ngerti apa-apa, taunya cuma seneeeeng aja hehe. ditambah lagi, kita harus ngejalani yang namanya CHEERLIAR. masya Allah, apa lagi sih ini? sekolah itu tujuannya kan belajar, ini ngapain lagi disuruh nge-cheer cowoknya, lha kaum hawanya malah disuruh bikin pompom yang susahnya minta ampun. mana latiannya pulskul sampe malem banget lagi, hampir 24 jam ketemu terus. lha terus kapan kita belajarnya?? (hahaha maklum, masih kebawa smp yang rajiiiin sekali belajar)
yaa apa mau dikata, dijalani aja dah dulu, pikirku pas itu. agak gondok juga sih awalnya. tapiiiii....
ternyata gak parah-parah amat lhoo. sumpah, asli, banyak manfaat yang bisa aku ambil dari si CHEERLIAR itu. kita ber-30 jadi muakin deket, kayak saudara sendiri, sama kakak kelas juga deket, gak ada kata senioritas. kita juga makin tau sifat-sifat dari masing-masing anak, mulai dari absen 1 sampe 30 (atau 29 ya??). jadi paham satu sama lain, dan gak gampang sakit hati juga dengan guyonannya ANDRY GAFFAR ABDILLAH yang awalnya menurutku 'muangkelno' (sampe sekarang se hehe #ampun par). juga bisa paham banget dengan sifat cerobohnya AMANDA DINAR RAHMANIAH yang sering banget ninggalin dan ngilangin barang-barang berharga (termasuk laptop dan hp). dan lebih ngerti lagi sama ANNISA SHABRINA dengan sifatnya yang kadang-kadang masih kayak anak kecil meskipun dia yang paling tua di kelas. apalagi sama si ARVIN IRSHAD PRABOWO yang biasa jualan popcorn di sekolah dan FAIZ DEWANGGA BINAR DIWARI yang ngomongnya gak kalah nyelekit sama gopar (mereka berdua musisi kerajaan, terbukti bawa b3st jadi juara akustik cemol :D). anak-anak juga kebal banget sama AULIA VICA RAHMAN HERNANDA yang kerjanya tidur di kelas tapi kalo bangun kerjanya pisuh tok haha #ampun be. yang namanya GALANG PARENDRA WASTUDIAWAN nih, jago voli dan futsal, tapi kalo ketawa gak bisa biasa haha. dan GIFFARRY MUHAMMAD RIFAT YUSUF, perutnya mesti dibuat mainan sama anak-anak cowok, soalnya ginuk-ginuk banget hehe. INDRA AWIDIYA, rajin beribadah (wuuussss) tapi mesti bikin anak-anak ngakak setiap dia ngomong APAPUN. dan MAHESWARI DINDA RADITO, meskipun umurnya yang paling muda, tapi dewasanya gak ketulungan, tapi bagus kok hehe. di kelas juga ada trio muhammad, MUHAMMAD HAZMI A.S., si ranking satu yang mau berangkat ke manado(biasa, OSN hehe #haz menangno yo), MUHAMMAD IMAN HIDAYAT yang suka koleng di kelas (gak nang kelas tok se hahaha ampun im), dan MUHAMMAD IQBAL yang puinter banget bahasa inggris, wedi aku sampean haha. ada juga NURUDDIN DZULKARNAIN yang hidupnya kayaknya gampaaaang banget (pernah jadi ketua SS Bridge lo pas kelas 10. kereeen :D). PRAMITHA YUSTIA, yang sebangku sama aku pas awal-awal masuk dulu, baik dan kolerisnya keliatan banget. dan dia dijodoh-jodohin samaaa...jeng jeng... PRATOMO ADHI NUGROHO, si pendiam yang sekali ngomong bisa memancing amarah, makanya dipanggil tom si pemancing amarah haha ngakak. PUTU PUTRI INDIRA SARI, si cerdas yang sekarang mau berangkat ke Belgia dan bakal balik taun depan, see you next year ndot, miss you so much :D. RACHMAPUTRI AYU RAMADHANI, yang pinter banget tapi baiknya juga keterlaluan hoho. RETNO DYAH AGUSTINA, atau yang lebih akrab disapa mbak enoook atau agus haha, yang tegas tapi moody juga anaknya. RIA INDAH WAHYUNINGTYAS yang suaranya pelaaaan bange, tapi kalo ketawa lucu, haha sampe sekarang aku gak bisa niruin, langka se :p. RIZKY ALFIRA RIMADHANI, mboknya caf3ine, tapi bukan maksudnya pembokat lah, soalnya dia dewasaaaa banget orangnya, suaranya enak banget pula. SRI NURUR RAHMI DEWI, prinsesnya kelas kita hehe, kalo anak-anak bilang sih, kaya tujuh turunan (yaiyalah, yang punya GKB gitu loh), tapi gak ada rasa sombong sedikitpun tersirat dari kata-katanya tiap hari. UNIKMAH WULAN NING ASIH, wah ini nih, pedagang kelas kita. tiap hari jualan bengbeng, gonzales (so nice maksudnya), choki-choki dkk, dieeem banget dan gak pernah marah. VIDYA PUTRI HARDIYANTI, teman sebangkuku sampe sekarang yang jago banget bikin ppt dan web page keren dan bagus, rajin, dan aku mesti pinjem bukunya hahaha maap lo pidii. YOGA DWI PUTRA PERMANA yang pinter dan gak pernah minder sama temen-temen yang lain, salut banget deh sama kamu yog. YUKITA KURNIA PRACITA, yang selalu berani mengutarakan pendapatnya selama dia merasa bener. YULITANIA LAKSMITA ZAHRA, si sapi yang mesti tak sembunyiin hapenya #maap lo yul, oiya dia tukang jual pulsa lo, walaupun saldonya sering abis :p. AHMAD ALFIAN FIRDAUS, baru masuk pas kelas 10 semester 2 yang tidak lain dan tidak bukan adalah anak dari Pak Samsul. princh kelas kita huahaha. NABILLA ZAHRA DEVIANDRA, baru amsuk pas kelas 11, supel dan gak jaim blas haha. daaan kita kedatangan anggota baru, CICILIA DEANDRA MAYA PUTRI, alias mbak dedek, yang abis dari amrik nih, seakrang nggabung bareng kita :D
huuf, banyak ya ternyata. padahal itu masih sebagian kuuuecil buanget dari buaaanyak yang pengen tak jabarin tentang mereka. yaah sisanya cukup memori otak aja, semoga muat dan gak eror kayak hapeku yang lagi sakit sekarang :(. pokoknya kapanpun dan dimanapun kita berada setelah kita lulus ntar, jangan pernah ngelupain satu sama lain, ingatlah PINAS kita, ingatlah CHEERLIAR kita, biar kita juga bisa inget, gimana kebersamaan kita selama 3 taun ini. suka duka kita, konflik yang mungkin pernah kita alamin, jadiin semua itu sebagai salah satu dari sekian banyak pengalaman indah kita saat sudah berpisah..
yaa mungkin segini aja tulisanku, inget ya guuuys...
keep them in our heart whatever, whenever and wherever we are. tetap saling menjaga selagi kita bisa, karena kita layaknya bebek yang selalu bersama apapun yang terjadi, gak peduli ada arang melintang, bebek itu tetep bareeeeeng aja. seperti arti jargon gen kita, b3st b3st b3st perkosa pertikaian donal bebek kwek kwek kwek. jangan dilupain ya temaaan :D
Jumat, 26 Agustus 2011
JEPIT KUPU IN MEMORIAM (PART 1)
Kugantungkan jaket yang dulu kubeli di London itu dalam lemari pakaianku. Sudah jam sepuluh malam, pikirku dalam hati. Ingin rasanya segera merebahkan tubuhku ke ranjang untuk melepaskan lelah akibat presentasi yang harus kuselesaikan dan harus segera ditampilkan di hadapan sembilan orang atasanku yang super galak hari itu juga. Namun seperti biasa, keinginanku takkan bisa kulakukan dengan segera. Tidak setelah kurampungkan dulu beberapa sketsa rumah klienku yang harus kuserahkan besok padanya untuk dipertimbangkan.
Sial. Sudah jam sepuluh malam dan aku masih harus bekerja? Tak cukupkah lima belas jam waktuku dalam sehari untuk bekerja? Rasanya 24 jam sehari masih kurang dalam hidupku. Mungkin bisa ditambah tiga sampai empat jam lagi. Andai aku bisa melakukan itu.
Ah, sudahlah. Buat apa aku melamun tidak ada juntrungannya seperti ini? Lebih baik kuselesaikan saja pekerjaanku. Dan sebaiknya minggu depan aku minta cuti. Dua hari, mungkin cukup. Oh, tidak. Aku harus menjamu tamu dari Belgia minggu depan. Mungkin aku bisa menyuruh asistenku untuk mewakiliku. Tinggal bilang saja kalau aku sedang menjenguk nenekku yang sedang sakit. Pasti si bule-bule itu mau ngerti.
Tapi apa kata atasanku nanti, yang sudah dapat dipastikan akan ikut nimbrung dalam perjamuan makan malam itu? Pasti dengan pengalamannya mengendus ketidakberesan anak buah yang sengaja ‘membolos’ dalam tugas kerja, orang itu akan segera mengirimkan uang PHK untukku. Bahasa kasarnya, DIPECAT.
Aih, melantur kemana lagi ini pikiranku? Sudahlah. Semakin cepat aku menyelesaikan pekerjaanku, semakin cepat aku bisa pergi ke pulau kapuk yang sudah sedari tadi menantiku.
***
“Dara, luar biasa !! Bravo ! Two thumbs up buat kamu. Tidak salah aku memilihmu untuk mewakili perusahaan kita. Presentasimu tadi, luar biasa. Excellent !!”
Pak Suryaningrat Atmojo, atau lebih akrab disapa Pak Suryo atau Pak Sur, menyalamiku dengan mantap lalu memelukku. Memang, ia selalu menganggapku seperti anaknya sendiri. Entah kenapa aku tak tahu. Aku juga tak mau tahu. Yang penting aku menjalankan tugasku dengan sempurna tanpa celah.
“Sebagai hadiah dari kesuksesan presentasimu hari ini…” Beliau mengambil napas sejenak, lalu melanjutkan, “…kamu saya beri cuti selama dua minggu untuk menginap di villa keluarga saya di Puncak. Sebelum kamu tanya, untuk urusan pekerjaan kamu, biar asisten kamu yang handle semuanya di sini. Jadi, intinya kamu harus santai dan jangan pikirkan pekerjaan kamu di sini selama kamu refreshing di sana. Oke?!”
Apa ini mimpi? Mimpiku untuk berlibur dan menikmati hari-hari tanpa sketsa rumah dan presentasi-presentasi memuakkan akan jadi kenyataan? Aku pun tak dapat menahan diri untuk memeluk Pak Sur. Aku tak peduli, orang nomor satu di perusahaan itu adalah sekaligus orang paling galak dan terkenal keangkuhannya di kalangan kolega bisnisnya, beliau tetap menjadi pahlawanku hari ini dan dua minggu ke depan.
“Makasih ya Pak. Makasih…” tanpa terasa air mataku menetes perlahan melewati pipiku, memeluk Pak Sur seperti ini terasa seperti memeluk kakekku yang meninggal tiga tahun lalu.
“Iya sama-sama Dara. Kamu pantas mendapatkan ini karena etos kerja kamu yang sangat luar biasa untuk perusahaan ini. Saya salut sama kamu. Terima kasih untu pengabdianmu pada perusahaan ini.”
Beberapa menit kami berpelukan. Seakan menyingkirkan segala macam status dan sifat kami masing-masing dan melebur dalam pelukan yang hangat. Tak pernah kudapatkan pelukan seperti ini. Aku tak pernah tahu siapa ayahku, bagaimana wajahnya, sifatnya, pelukannya, semuanya. Bahkan aku tak punya fotonya. Kata ibuku, ayahku sudah meninggal ketika aku masih dalam rahim ibuku. Karena kecelakaan motor. Itulah sebabnya aku tak pernah dan tak mau belajar mengendarai sepeda motor. Aku lebih memilih naik angkot atau bis kota. Aku takut, nasibku sama seperti ayahku nanti.
“Ya sudah,” Pak Sur melepaskan pelukannya. Terlihat sekali dari wajahnya bahwa dia sangat malu, “sekarang kamu pulang dan mulai berkemas-kemas. Ini alamat villa saya di sana. Besok kamu bisa berangkat ke sana. Biar supir saya yang mengantar kamu.” Katanya seraya memberikan secarik kertas kecil berisi alamat sebuah villanya, salah satu dari sekian banyak villa yang beliau miliki.
“Dan kamu tidak perlu khawatir dengan soal makanan. Biar saya suruh pembantu saya ikut kamu sekalian. Biar dia yang masak buat kamu selama kamu di sana.”
Sedikit heran dengan sikap Pak Sur hari ini, aku pun memutuskan untuk menanyakannya.
“Pak, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Hmm boleh saja. Apa yang mau kamu tanyakan?”
“Kenapa Bapak begitu baik pada saya?”
“Karena kamu karyawan yang baik. Mungkin yang terbaik yang saya miliki saat ini.”
“Hanya itu?”
“Hanya itu. Memangnya kamu mau jawaban yang bagaimana?”
Wah, mulai tersinggung dia. Sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja.
“Eeh, ya sudah kalau gitu. Sekali lagi terima kasih Pak. Untuk liburan plus pelayanan eksklusifnya. Saya pamit pulang dulu Pak. Assalamu alaikum.”
“Waalaikum salam. Hati-hati, Nak.”
Aku segera berjalan dengan riang seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah dari badut kesukaannya. Lagi-lagi Pak Sur melakukannya. Memanggilku dengan sebutan ‘Nak’. Sebutan yang biasanya cuma ibuku yang memakainya untukku. Tapi entah kenapa, aku sama sekali tidak risih dengan sebutan ini, justru yang muncul adalah perasaan seperti…entahlah. Aku selalu bingung memikirkan perasaan apa ini. Seperti…sebutan ayah untuk anaknya. Bukan hanya soal sebutannya, tapi caranya menyebutkan kata itu.
Sudahlah, sebaiknya aku mulai memikirkan apa saja yang harus kubawa untuk liburanku nanti. Sudah banyak sekali kelebatan barang yang muncul di dalam kepalaku dan seolah-olah merengek minta dibawa liburan juga bersamaku. Aku senyum-senyum sendiri, membayangkan bagaimana ributnya aku packing karena bingung sendiri apa yang harus dibawa.
Tidak terasa aku berjalan sampai di rumah, tanpa naik angkot. Mungkin karena hatiku sedang riang gembira sehingga tanpa sadar aku berjalan bukannya mencari angkot. Segera saja kukeluarkan koperku dari lemari dan tak sampai lima menit koper itu sudah penuh dengan berbagai macam barang. Baju, selimut, alat mandi, perlengkapan ibadah, camilan, terlihat penuh sesak di dalam koperku. Dan lagi-lagi, aku mengambil tas besar di dalam lemari, kembali menjejalinya dengan baju-baju santaiku. Ya Tuhan, aku seperti mau merantau saja.
“Daraa, kamu ngapain? Berisik amat.” Kudengar teriakan ibuku memanggil dari bawah.
“Nggak ngapa-ngapain kok Bu.” jawabku singkat sambil tetap melanjutkan ritual packingku.
Ibu mulai penasaran dan memutuskan naik ke kamarku. Tanpa mengetuk pintu, langsung saja dibuka pintu kamarku.
“Ya ampuun, kamu mau ke mana sayang? Baju semerawut kayak gini, ngapain juga koper sama tas kamu dikeluarin dari lemari? Kamu mau pergi ke mana?” tanya ibuku dengan wajah khawatir. Mungkin dikiranya aku mau minggat kali ya.
“Sebentar Bu, ini mau selesai. Habis ini aja aku ceritain. Oke?!”
“Ya udah. Tapi kamu bukan mau minggat dari rumah kan?”
Mendengar itu, aku sedikit terkejut, lalu tersenyum berusaha menahan tawa. Dan akhirnya tertawa sekencang-kencangnya.
“Kok malah ketawa? Ibu ini serius tanya ke kamu.” Wah, ibu tampaknya agak tersinggung. Segera setelah tawaku sedikit mereda, aku duduk di samping ibuku dan memeluknya erat.
“Ibu, siapa yang mau minggat? Kalo aku mau minggat, nggak mungkin lah aku beres-beres jam segini. Pasti entar malem baru beres-beres terus minggat.”
“Terus, kamu mau ke mana? Ini barang kamu kok pada di dalem koper semua?”
“Gini, atasanku lagi baik hati. Dia ngasih aku cuti dua minggu, dan aku dikasih liburan di villanya di Puncak. Plus supir sama pembantu beliau yang ngasih. Baik banget kan Bu?”
“Iya, atasan kamu baik sekali sayang. Ya udah, sekarang kamu beresin nih barang-barang kamu. Ibu pusing liat kamar kamu kayak kapal pecah gini.”
“Siap Bos !!”
***
“Sudah semua, Dara?”
“Sudah Bu.”
“Nggak ada yang ketinggalan?”
“Kayaknya sih nggak ada.”
“Jam berapa supirnya mau jemput kamu?”
“Kata atasanku sih jam tujuh tepat. Ditunggu aja dulu Bu. Mungkin kena macet.”
Aku dan ibuku sudah menanti supir Pak Sur di depan rumah. Kok supirnya belum dateng? Jangan-jangan nyasar dia? Aaah sudahlah. Lebih baik ditunggu saja.
Tak lama kemudian tampak sebuah mobil mewah menuju rumahku. Dan mobil itu berhenti tepat di depanku dan ibuku. Ketika si pengendara turun, aku mengenali wajah itu. Itu Pak Dirman, supir Pak Sur. Akhirnya datang juga.
“Selamat pagi, mbak Dara. Maaf telat, tadi macetnya minta ampun.”
“Ah nggak papa Pak, santai aja. Berangkat sekarang?”
“Iya mbak. Silahkan masuk.” katanya sambil membukakan pintu mobil untukku. Sekilas kulihat perempuan tua di dalam mobil, mungkin ini pembantunya Pak Sur.
“Itu pembantunya Pak Sur juga ikut mbak. Namanya Mbok Sumi.”
Aku mengangguk paham.
“Bu, aku berangkat ya. Ibu nggak papa kan di rumah sendirian?”
“Nggak papa lah, kayak nggak pernah kamu tinggal sendirian aja. Oh iya, ibu mau ngasih sesuatu ke kamu. Tunggu sebentar.”
Sesuatu? Apa itu? Sebelum aku bertanya, ibu sudah menghilang dari penglihatanku dan ia masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian ibu keluar membawa kotak kecil yang tampaknya sudah usang.
“Ini. Kamu bawa biar kamu selalu ingat sama ibu. Jangan sampai hilang ya.”
Kubuka kotak kecil berdebu itu, dan ternyata di dalamnya terdapat jepit berbentuk kupu-kupu yang sangat cantik.
“Ini…cantik sekali, Bu. Milik Ibu?”
“Iya, saat ibu masih seumuran kamu, ayahmu memberikan ini sebagai hadiah ulang tahun untuk ibu. Sekarang sebaiknya ini untuk kamu saja.”
“Terima kasih, Bu. Ya udah, aku berangkat dulu. Assalamu alaikum.”
“Waalaikum salam. Jaga diri baik-baik ya Nak.”
Segera saja aku masuk ke mobil dan tetap memandang ibu dari kaca mobil sampai tak terlihat lagi. Sepanjang perjalanan aku menikmati pemandangan jalan menuju Puncak. Sungguh indah.
Kulihat lagi jepit kupu-kupu pemberian ibu tadi. Sungguh, ini indah sekali. Padahal ini sudah berumur puluhan tahun, tapi masih kinclong dan mengkilat.
“Non, indah sekali. Milik Non?” pembantu Pak Sur ternyata memperhatikan jepit kupu-kupuku.
“Oh, ini? Ini pemberian ibuku. Kenapa Mbok?”
Dia tak menjawab. Bisa kulihat dari raut wajahnya kalau dia gelisah setelah melihat jepit itu. Entah karena apa. Mungkin ini hanya perasaanku saja.
Sepanjang perjalanan kulirik terus Mbok Sumi yang masih saja terlihat gelisah, bahkan sekarang ia tampak gemetar. Mungkinkah dia sakit?
“Mbok, mbok sakit?”
“Ah, nggak Non. Mbok nggak sakit kok.”
“Tapi kok muka mbok pucat? Terus berkeringat lagi. Yakin mbok nggak papa?”
“Iya Non. Mbok nggak papa. Mbok…mbok emang suka mabuk kalau naik mobil.”
Tapi kurasa alasannya bukan karena itu…
To be continued…
Selasa, 23 Agustus 2011
YANG TAK TERLUPAKAN
Berjalan-jalan di taman seperti ini membuatku tenang. Setelah berkutat seharian dengan pekerjaan yang tak kunjung habis, kurasa inilah yang layak kudapat. Menikmati indahnya taman sebelah kantor dengan bunga-bunga yang mulai menampakkan keelokan mahkotanya. Mendengar kicau burung sahut-menyahut. Melihat anak kecil yang berlarian mengejar balonnya yang tertiup angin sambil tertawa kegirangan. Melihat itu semua membuatku sangat bahagia.
Kulirik jam tangan pemberian mama yang kupakai saat ini, sudah menunjukkan pukul 12.30. saatnya kembali ke kantor.
Waktu membosankan pun dimulai.
***
“Ris, pulang yuk. Udah sore nih.” Teriakan Eci dari ruangan sebelah membuyarkan lamunanku. Segera saja kulirik jam. Memang sudah waktunya pulang, pikirku dalam hati.
“Iya bentar Ci. Aku mau beres-beres dulu. Tunggu ya.”
“Oke. Cepetan Ris. Udah kebelet pulang nih.”
Teman kantorku yang satu ini memang asyik orangnya. Easy going, tapi agak moody juga. Aku hanya tersenyum kecil mendengar sahutannya.
Segera saja kubereskan meja kerjaku dan memasukkan barang-barang yang berserakan ke dalam tasku. Tanpa sengaja aku menyenggol mejaku dan sebuah foto jatuh ke lantai. Foto itu. Senyum itu. Senyum yang tak akan pernah hilang dari memori otakku. Melihat foto itu, aku pun tersenyum. Lalu menangis. Menangis sejadi-jadinya.
***
Saat itu umurku baru 16 tahun dan aku tak tahu apa-apa tentang makna kehidupan sesungguhnya, apalagi yang namanya cinta. Dan jangan harap kau akan menemukan akhir cerita bahagia seperti Cinderella atau Putri Salju. Anggap saja ini bagian dari ironi kehidupan yang takkan ada ujungnya.
Masih segar di ingatanku, seakan kejadian itu baru terjadi kemarin, saat itu aku baru masuk SMA. Kebetulan banyak sekali teman SMPku yang masuk di sekolah itu. Termasuk kedua sahabtku, Vivin dan Ambar. Dan beruntung, kami bertiga sekelas lagi.
Teman-teman sekelasku saat itu benar-benar beragam. Mulai dari penampilan, sifat, keadaan ekonomi, semuanya beragam. Serasa es campur. Tapi semua itu membuat kelas kami kompak dan saling mengerti satu sama lain. Kecuali, Gita dan Imel. Mereka berdua anak pejabat. Kaya raya. Donatur terbesar di sekolah. Sombong dan angkuh, tidak mau menghargai orang lain. Untung saja teman-teman yang lain tidak terpengaruh dengan sikap mereka berdua. Jadi situasi tetap kondusif, aman dan tentram.
Semuanya berjalan dengan normal sampai aku bertemu dengannya. Orang itu. Laki-laki yang membuat segalanya berubah seratus delapan puluh derajat dalam sekejap. Membuat hidupku semakin berwarna. Dia. Reyhan.
Laki-laki idaman semua wanita di sekolah. Reyhan anak orang kaya, tapi baiknya keterlaluan. Santun pada guru dan supel pada kawan-kawannya. Pintar, pernah meraih medali emas olimpiade tingkat nasional bidang matematika saat dia masih SMP. Reyhan juga punya band, bahkan ia juga punya studio sendiri, lengkap dengan segala tetek bengek peralatannya. Dia bisa bermain gitar, piano, drum, bahkan biola, alat musik yang menurutku sangat susah dan masih belum kukuasai hingga sekarang. Selain itu, Reyhan juga dicalonkan sebagai kapten tim basket, padahal dia baru masuk di sekolah ini. Setiap Reyhan bermain basket saat istirahat ataupun pulang sekolah di lapangan, tidak kurang dari lima belas anak perempuan yang berdiri, rela berpanas-panasan hanya untuk melihat si Reyhan main basket.
Awalnya aku menganggap Reyhan adalah anak manja sok ganteng yang suka pamer. Biar pun semua cewek di sekolah mengaku tergila-gila dan cinta mati sama dia, aku tidak peduli. bodoh amat, rutukku dalam hati saat itu. Apalagi saat melihat cewek-cewek keganjenan itu berteriak histeris saat Reyhan lewat di depan mata mereka. ingin rasanya aku melempar jauh-jauh si Reyhan ke planet Saturnus. Biar cewek-cewek itu tidak menjadi penghuni rumah sakit jiwa karena jadi gila, gila Reyhan.
Intinya, aku benci Reyhan.
***
Bel istirahat sudah berbunyi sekitar 10 menit yang lalu. Kelas pun sudah sepi. Vivin dan Ambar pun telah melesat terlebih dahulu ke kantin.
Hanya ada aku di kelas. Sebenarnya aku lapar, tapi aku malas sekali keluar. Semalam adikku sakit dan orangtuaku pergi ke Paris. Jadi mau tidak mau aku harus merawat Adisti, adik tersayang.
“Risa, kamu nggak ke kantin?” Vivin melongok dari balik pintu.
“Iya, kok diem aja sih? Kantin yuuk.” Kepala ambar muncul di samping kepala Vivin.
“Males nih. Nggak mood. Aku nitip aja deh, siomay ya. Makasih.” kataku singkat dan langsung beranjak tidur.
“Yee malah tidur. Ya udah deh, kita berdua cabut ya. Daah.”
Aku hanya melambaikan tangan.
5 menit kemudian…
“Assalamu alaikum !” siapa nih, tumben mau masuk kelas pakai salam.
“Waalaikum salam.” Kuangkat kepalaku dengan enggan, dan saat itu kulihat dia sudah berdiri di depanku. Reyhan menatapku ragu. Aku menatapnya bingung. Lalu jengkel, lelu marah.
“Ngapain ke sini? Nyasar ya?” tanyaku ketus.
“Ketus banget. Aku ke sini mau nyari Rian. Rian mana?” Sopan sekali.
“Tau deh.” kataku sambil mencoba tidur lagi. Tapi terlambat.
“Eh, eh. Jangan tidur lagi dong. Aku cari Rian biar dia bisa dengerin lagu ciptaanku, tapi berhubung dia nggak ada, gimana kalo kamu yang dengerin? Nanti sekalian kamu nilai, bagus atau nggak. Gimana? Mau ya?”
Nah, ini nih. Wajah melasnya yang sanggup bikin hati cewek dagdigdug. Sebenarnya aku males, tapi mau gimana lagi? “Ya udah, buruan nyanyi.”
“Yee, bentar ya. Aku ambil gitar dulu. Jangan kemana-mana. Oke?!”
“Iya iya, cepetan. Mumpung aku belum berubah pikiran.”
Segera saja ia melesat menuju kelasnya. Sebentar saja Reyhan kembali dengan membawa gitar kebanggaannya. Dengan cekatan ia mengambil kursi dan menggesernya sampai kita duduk berhadap-hadapan. Dan mulailah ia bernyanyi.
Baru kali ini aku melihat wajahnya. Putih, mulus tanpa jerawat, hangat dan aku suka matanya yang berwarna coklat. Terkesan teduh. Dan senyum itu, senyum terindah yang pernah kulihat. Suara itu, suara paling merdu yang pernah kudengar. Saat itulah aku mulai membenarkan ucapan semua orang. Bahwa Reyhan itu sempurna. Dan aku menyukainya. Sangat menyukainya.
Tanpa terasa Reyhan selesai menyanyi. Aku begitu terpana dengan wajah dan permainan gitarnya sampai tak menyadarinya. Hingga aku mendengar tepuk tangan dan sorak sorai mengakhii nyanyian Reyhan, seperti konser band terkenal yang ditonton ribuan orang yang bersorak sorai menyerukan namanya. Ternyata semua teman kelasku melihat adegan Reyhan-menyanyi-di-depanku dengan pandangan takjub dan tak percaya. Rissa, yang terkenal membenci Reyhan, ternyata punya hubungan khusus dengan Reyhan, itu yang mungkin mereka pikirkan saat itu.
“Thanks ya Ris.”
“Thanks? Buat apa?”
“Soalnya kamu mau dengerin laguku. Maaf ya udah ganggu.”
“Eh nggak papa kok. Santai aja.”
“Ya udah kalo gitu. Aku balik dulu ya.”
Sejak itulah kami makin dekat. Dan aku juga baru tahu kalau dia tinggal tak jauh dari rumahku, hanya selisih 6 rumah di sebelah kanan rumahku. Praktis sejak itu kami selalu pulang dan berangkat sekolah bersama. Sampai akhirnya…
“Ris, ikut aku yuk.”
“Kemana?”
“Udahlah, ikut aja. Nanti kamu juga tau.”
Reyhan membawaku pergi dengan moil barunya. Pergi ke suatu tempat yang menjadi tempat favoritnya saat masih kecil. Masih bingung dengan maksudnya membawaku ke sana, aku memutuskan diam.
Sampailah kami berdua di sebuah bukit yang sangat indah. Pohon-pohonya masih hijau dan asri, ditambah banyak bunga yang mekar di sana.
“Jadi ini tempat favorit kamu? Keren.”
“Yap. Dulu akus erring banget ke sini. Bareng keluargaku. Tapi sekarang udah jarang. Semuanya pada sibuk. Termasuk aku.”
“Sok sibuk loh. Dasar.”
“Eh beneran nih. Aku nggak bohong.”
Begitulah, kami ngobrol sambil terus saja tertawa. Sesekali aku memukulnya pelan. Tapi ia tidak pernah memukulku. Itu yang kusuka darinya. Reyhan sangat menghormatiku. Menghormati semua orang yang ada di hidupnya. Untuk kesekian kalinya aku takjub padanya. Di sela-sela tawa kami, tiba-tiba…
“RIS, AKU SUKA SAMA KAMU.”
Degg, jantungku berdetak kencang. Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutnya. Kalimat yang sudah kutunggu-tunggu.
“Kamu mau nggak jadi pacarku?”
Saat itu jantungku seakan ikut takjub mendengar perkataannya, hingga rasanya ia enggan untuk bekerja. Mulutku seakan dikunci rapat-rapat. Tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk bilang, “Ya. Aku mau jadi pacarmu, calon istrimu, dan istrimu kelak. AKU JUGA SUKA SAMA KAMU.”
Masih bisa kuingat dia tersenyum dan memelukku erat. Aku pun membalas pelukannya dengan tak kalah erat. Sambil berharap impian kamu untuk bersatu jadi kenyataan.
Tapi kebahagiaan kamu nyatanya bukan untuk sealmanya.
Dua tahun kemudai kami lulus SMA. Kami meneruskan pendidikan di perguruan tinggi yang suah menjadi impian kami, aku di manajemen, Reyhan di arsitektur. 4 tahun kemudian, kami lulus dengan nilai memuaskan dan diwisuda. Sungguh saat-saat yang paling membahagiakan bagi kami. Segera saja kami melangsungkan pertunangan dan mulai merencanakan pernikahan.
Siang itu, 3 tahun lalu, hari pernikahan kami tinggal beberapa hari lagi. Aku dan Reyhan mulai fitting baju pengantin. Saat yang paling membahagiakan bagi pasangan yang akan menikah, seperti kami. Kami berdua sepakat memakai konsep adat jawa untuk resepsi kami nanti. Kulihat Reyhan begitu tampan dengan pakaiannya yang sungguh indah. Dia juga memujiku yang memakai pakaian yang senada dengan pakaian yang dipakai Reyhan. Begitu cantik.
Saatnya kami menuju tempat selanjutnya. Setelah memastikan baju-baju yang kami pesan sudah sesuai, kami pun langsung menuju mobil. Sepanjang perjalanan kami selalu berpegangan tangan. Sungguh romantis.
Sampai akhirnya tragedi tiu datang. Sebuah truk yang berjalan di depan mobil Reyhan tiba-tiba oleng ke kanan, dan membuat barang-barang yang diangkutnya, yang ternyata puluhan batang besi panjang, berjatuhan dari truk ke mobil yang kami naiki. Merenggut nyawa Reyhan dengan kejinya. Di depan mataku. Darah pun mengalir deras dari dada dan mulutnya. Melihatnya membuatku pusing dan berkunang-kunang. Entah apa yang terjadi setelah itu.
***
“Ini di mana?”
“Sayang, kamu sudah sadar?” kudengar suara mama yang sangat kukenal. Syukurlah aku tidak amnesia.
Lalu aku teringat sesuatu yang sangat penting.
“Reyhan mana?” tanyaku mulai panik “Reyhan mana, Ma? Dia selamat kan?”
“Sayang, kamu yang sabar ya.” Mamaku mengelus-ngelus kepalaku.
“Reyhan sudah pergi, Nak.” Papaku yang bicara kali ini.
Tak sanggup aku menahan air mataku. Aku pun menangis sejadi-jadinya. Orang yang selama ini menemaniku, membuat hidupku tenang, dan yang sangat aku cintai, telah pergi. Untuk selamanya.
***
“Risaa, lama amat beres-beresnya. Ayo cepetan dong !!” Eci membuatku kembali tersadar dari nostalgiaku. Kuusap air mata dari pipiku dengan cepat dan berlari kecil menuju tempat Eci menungguku dan bersiap menerima omelan cempreng darinya.
“Oops, ketinggalan.”
Aku bermanuver menuju ruang kerjaku lagi, dan mengambil foto itu. Foto Reyhan dan aku ketika kami di bukit. Tempat kenangan kami. Kami berdua tersenyum bahagia di dalam foto itu. Sangat bahagia.
Cepat-cepat kumasukkan foto itu ke dalam tasku dan kembali ke Eci.
“So…sori Ci. Tadi.. tadi ada barangku yang ilang. Makanya lama. Sori…sori ya.” Kataku sambil mengatur nafas setelah ebrlari dari ruang kerjaku.
“Ya udah. Ayo pulang. Capek nih badanku.”
“Eeeeh, kamu duluan aja. Aku mau pergi ke suatu tempat dulu.”
“Haaaah? Kenapa nggak bilang dari tadi siiiih? Tau gitu aku langsung cabut aja nggak pake nungguin kamu.”
“Yaa maaf Ci. Ini juga mendadak banget kok. Duluan ya.”
“Ya udah, Ris. Hati-hati.”
***
Terakhir kali aku ke sini, adalah saat seminggu setelah kematiannya. Kini aku duduk di depan nisannya, setelah beberapa tahun kulewati tanpa Reyhan.
“Aku tadi nemu foto kita, Rey. Foto pas kita do bukit itu lho, kamu inget kan? Kamu tau ngga sih, aku kangen banget sama kamu. Kenapa kamu ninggalin aku secepat ini? Apa kamu nggak sayang sama aku? Kamu nggak kasian ngeliat aku sedih terus ditinggal kamu?”
Saat itu pula kurasakan belaian tangan seeorang di pundakku.
“Ayo kita pulang. Udah sore.”
“Iya, Ma. Ayo pulang. Laper nih.”
Ya, kini aku sudah berkeluarga. Setahun setelah masa berkabungu kehilangan Reyhan, aku memutuskan untuk menikahi lelaki pilihan orang tuaku. Dan lelaki itu seorang dokter. Begita tahu bahwa aku tidak bisa punya anak, aku memutuskan untuk mengadopsi anak dari panti asuhan.
Dan anak kecil tadi? Itu anak angkatku, Reyhan. Dia kuadopsi dari panti asuhan saat dia baru berumur 3 bulan. Aku bahagia dengan hidupku saat ini, suami yang pengertian dan anak yang lucu sudah cukup untukku.
Tanpa sedikit pun melupakan nama itu dari hatiku. Reyhan.
Langganan:
Postingan (Atom)





