Selasa, 23 Agustus 2011

YANG TAK TERLUPAKAN

            
             Berjalan-jalan di taman seperti ini membuatku tenang. Setelah berkutat seharian dengan pekerjaan yang tak kunjung habis, kurasa inilah yang layak kudapat. Menikmati indahnya taman sebelah kantor dengan bunga-bunga yang mulai menampakkan keelokan mahkotanya. Mendengar kicau burung sahut-menyahut. Melihat anak kecil yang berlarian mengejar balonnya yang tertiup angin sambil tertawa kegirangan. Melihat itu semua membuatku sangat bahagia.
            Kulirik jam tangan pemberian mama yang kupakai saat ini, sudah menunjukkan pukul 12.30. saatnya kembali ke kantor.
Waktu membosankan pun dimulai.
***
            “Ris, pulang yuk. Udah sore nih.” Teriakan Eci dari ruangan sebelah membuyarkan lamunanku. Segera saja kulirik jam. Memang sudah waktunya pulang, pikirku dalam hati.
“Iya bentar Ci. Aku mau beres-beres dulu. Tunggu ya.”
“Oke. Cepetan Ris. Udah kebelet pulang nih.”
Teman kantorku yang satu ini memang asyik orangnya. Easy going, tapi agak moody juga. Aku hanya tersenyum kecil mendengar sahutannya.
Segera saja kubereskan meja kerjaku dan memasukkan barang-barang yang berserakan ke dalam tasku. Tanpa sengaja aku menyenggol mejaku dan sebuah foto jatuh ke lantai. Foto itu. Senyum itu. Senyum yang tak akan pernah hilang dari memori otakku. Melihat foto itu, aku pun tersenyum. Lalu menangis. Menangis sejadi-jadinya.
***
            Saat itu umurku baru 16 tahun dan aku tak tahu apa-apa tentang makna kehidupan sesungguhnya, apalagi yang namanya cinta. Dan jangan harap kau akan menemukan akhir cerita bahagia seperti Cinderella atau Putri Salju. Anggap saja ini bagian dari ironi kehidupan yang takkan ada ujungnya.
            Masih segar di ingatanku, seakan kejadian itu baru terjadi kemarin, saat itu aku baru masuk SMA. Kebetulan banyak sekali teman SMPku yang masuk di sekolah itu. Termasuk kedua sahabtku, Vivin dan Ambar. Dan beruntung, kami bertiga sekelas lagi.
            Teman-teman sekelasku saat itu benar-benar beragam. Mulai dari penampilan, sifat, keadaan ekonomi, semuanya beragam. Serasa es campur. Tapi semua itu membuat kelas kami kompak dan saling mengerti satu sama lain. Kecuali, Gita dan Imel. Mereka berdua anak pejabat. Kaya raya. Donatur terbesar di sekolah. Sombong dan angkuh, tidak mau menghargai orang lain. Untung saja teman-teman yang lain tidak terpengaruh dengan sikap mereka berdua. Jadi situasi tetap kondusif, aman dan tentram.
            Semuanya berjalan dengan normal sampai aku bertemu dengannya. Orang itu. Laki-laki yang membuat segalanya berubah seratus delapan puluh derajat dalam sekejap. Membuat hidupku semakin berwarna. Dia. Reyhan.
            Laki-laki idaman semua wanita di sekolah. Reyhan anak orang kaya, tapi baiknya keterlaluan. Santun pada guru dan supel pada kawan-kawannya. Pintar, pernah meraih medali emas olimpiade tingkat nasional bidang matematika saat dia masih SMP. Reyhan juga punya band, bahkan ia juga punya studio sendiri, lengkap dengan segala tetek bengek peralatannya. Dia bisa bermain gitar, piano, drum, bahkan biola, alat musik yang menurutku sangat susah dan masih belum kukuasai hingga sekarang. Selain itu, Reyhan juga dicalonkan sebagai kapten tim basket, padahal dia baru masuk di sekolah ini. Setiap Reyhan bermain basket saat istirahat ataupun pulang sekolah di lapangan, tidak kurang dari lima belas anak perempuan yang berdiri, rela berpanas-panasan hanya untuk melihat si Reyhan main basket.
Awalnya aku menganggap Reyhan adalah anak manja sok ganteng yang suka pamer. Biar pun semua cewek di sekolah mengaku tergila-gila dan cinta mati sama dia, aku tidak peduli. bodoh amat, rutukku dalam hati saat itu. Apalagi saat melihat cewek-cewek keganjenan itu berteriak histeris saat Reyhan lewat di depan mata mereka. ingin rasanya aku melempar jauh-jauh si Reyhan ke planet Saturnus. Biar cewek-cewek itu tidak menjadi penghuni rumah sakit jiwa karena jadi gila, gila Reyhan.
            Intinya, aku benci Reyhan.
***
            Bel istirahat sudah berbunyi sekitar 10 menit yang lalu. Kelas pun sudah sepi. Vivin dan Ambar pun telah melesat terlebih dahulu ke kantin.
            Hanya ada aku di kelas. Sebenarnya aku lapar, tapi aku malas sekali keluar. Semalam adikku sakit dan orangtuaku pergi ke Paris. Jadi mau tidak mau aku harus merawat Adisti, adik tersayang.
“Risa, kamu nggak ke kantin?” Vivin melongok dari balik pintu.
“Iya, kok diem aja sih? Kantin yuuk.” Kepala ambar muncul di samping kepala Vivin.
“Males nih. Nggak mood. Aku nitip aja deh, siomay ya. Makasih.” kataku singkat dan langsung beranjak tidur.
“Yee malah tidur. Ya udah deh, kita berdua cabut ya. Daah.”
Aku hanya melambaikan tangan.
5 menit kemudian…
“Assalamu alaikum !” siapa nih, tumben mau masuk kelas pakai salam.
“Waalaikum salam.” Kuangkat kepalaku dengan enggan, dan saat itu kulihat dia sudah berdiri di depanku. Reyhan menatapku ragu. Aku menatapnya bingung. Lalu jengkel, lelu marah.
“Ngapain ke sini? Nyasar ya?” tanyaku ketus.
“Ketus banget. Aku ke sini mau nyari Rian. Rian mana?” Sopan sekali.
“Tau deh.” kataku sambil mencoba tidur lagi. Tapi terlambat.
“Eh, eh. Jangan tidur lagi dong. Aku cari Rian biar dia bisa dengerin lagu ciptaanku, tapi berhubung dia nggak ada, gimana kalo kamu yang dengerin? Nanti sekalian kamu nilai, bagus atau nggak. Gimana? Mau ya?”
Nah, ini nih. Wajah melasnya yang sanggup bikin hati cewek dagdigdug. Sebenarnya aku males, tapi mau gimana lagi? “Ya udah, buruan nyanyi.”
“Yee, bentar ya. Aku ambil gitar dulu. Jangan kemana-mana. Oke?!”
“Iya iya, cepetan. Mumpung aku belum berubah pikiran.”
Segera saja ia melesat menuju kelasnya. Sebentar saja Reyhan kembali dengan membawa gitar kebanggaannya. Dengan cekatan ia mengambil kursi dan menggesernya sampai kita duduk berhadap-hadapan. Dan mulailah ia bernyanyi.
Baru kali ini aku melihat wajahnya. Putih, mulus tanpa jerawat, hangat dan aku suka matanya yang berwarna coklat. Terkesan teduh. Dan senyum itu, senyum terindah yang pernah kulihat. Suara itu, suara paling merdu yang pernah kudengar. Saat itulah aku mulai membenarkan ucapan semua orang. Bahwa Reyhan itu sempurna. Dan aku menyukainya. Sangat menyukainya.
Tanpa terasa Reyhan selesai menyanyi. Aku begitu terpana dengan wajah dan permainan gitarnya sampai tak menyadarinya. Hingga aku mendengar tepuk tangan dan sorak sorai mengakhii nyanyian Reyhan, seperti konser band terkenal yang ditonton ribuan orang yang bersorak sorai menyerukan namanya. Ternyata semua teman kelasku melihat adegan Reyhan-menyanyi-di-depanku dengan pandangan takjub dan tak percaya. Rissa, yang terkenal membenci Reyhan, ternyata punya hubungan khusus dengan Reyhan, itu yang mungkin mereka pikirkan saat itu.
“Thanks ya Ris.”
“Thanks? Buat apa?”
“Soalnya kamu mau dengerin laguku. Maaf ya udah ganggu.”
“Eh nggak papa kok. Santai aja.”
“Ya udah kalo gitu. Aku balik dulu ya.”
Sejak itulah kami makin dekat. Dan aku juga baru tahu kalau dia tinggal tak jauh dari rumahku, hanya selisih 6 rumah di sebelah kanan rumahku. Praktis sejak itu kami selalu pulang dan berangkat sekolah bersama. Sampai akhirnya…
“Ris, ikut aku yuk.”
“Kemana?”
“Udahlah, ikut aja. Nanti kamu juga tau.”
Reyhan membawaku pergi dengan moil barunya. Pergi ke suatu tempat yang menjadi tempat favoritnya saat masih kecil. Masih bingung dengan maksudnya membawaku ke sana, aku memutuskan diam.
Sampailah kami berdua di sebuah bukit yang sangat indah. Pohon-pohonya masih hijau dan asri, ditambah banyak bunga yang mekar di sana.
“Jadi ini tempat favorit kamu? Keren.”
“Yap. Dulu akus erring banget ke sini. Bareng keluargaku. Tapi sekarang udah jarang. Semuanya pada sibuk. Termasuk aku.”
“Sok sibuk loh. Dasar.”
“Eh beneran nih. Aku nggak bohong.”
Begitulah, kami ngobrol sambil terus saja tertawa. Sesekali aku memukulnya pelan. Tapi ia tidak pernah memukulku. Itu yang kusuka darinya. Reyhan sangat menghormatiku. Menghormati semua orang yang ada di hidupnya. Untuk kesekian kalinya aku takjub padanya. Di sela-sela tawa kami, tiba-tiba…
“RIS, AKU SUKA SAMA KAMU.”
Degg, jantungku berdetak kencang. Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutnya. Kalimat yang sudah kutunggu-tunggu.
“Kamu mau nggak jadi pacarku?”
Saat itu jantungku seakan ikut takjub mendengar perkataannya, hingga rasanya ia enggan untuk bekerja. Mulutku seakan dikunci rapat-rapat. Tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk bilang, “Ya. Aku mau jadi pacarmu, calon istrimu, dan istrimu kelak. AKU JUGA SUKA SAMA KAMU.”
Masih bisa kuingat dia tersenyum dan memelukku erat. Aku pun membalas pelukannya dengan tak kalah erat. Sambil berharap impian kamu untuk bersatu jadi kenyataan.
Tapi kebahagiaan kamu nyatanya bukan untuk sealmanya.
Dua tahun kemudai kami lulus SMA. Kami meneruskan pendidikan di perguruan tinggi yang suah menjadi impian kami, aku di manajemen, Reyhan di arsitektur. 4 tahun kemudian, kami lulus dengan nilai memuaskan dan diwisuda. Sungguh saat-saat yang paling membahagiakan bagi kami. Segera saja kami melangsungkan pertunangan dan mulai merencanakan pernikahan.
Siang itu, 3 tahun lalu, hari pernikahan kami tinggal beberapa hari lagi. Aku dan Reyhan mulai fitting baju pengantin. Saat yang paling membahagiakan bagi pasangan yang akan menikah, seperti kami. Kami berdua sepakat memakai konsep adat jawa untuk resepsi kami nanti. Kulihat Reyhan begitu tampan dengan pakaiannya yang sungguh indah. Dia juga memujiku yang memakai pakaian yang senada dengan pakaian yang dipakai Reyhan. Begitu cantik.
Saatnya kami menuju tempat selanjutnya. Setelah memastikan baju-baju yang kami pesan sudah sesuai, kami pun langsung menuju mobil. Sepanjang perjalanan kami selalu berpegangan tangan. Sungguh romantis.
Sampai akhirnya tragedi tiu datang. Sebuah truk yang berjalan di depan mobil Reyhan tiba-tiba oleng ke kanan, dan membuat barang-barang yang diangkutnya, yang ternyata puluhan batang besi panjang, berjatuhan dari truk ke mobil yang kami naiki. Merenggut nyawa Reyhan dengan kejinya. Di depan mataku. Darah pun mengalir deras dari dada dan mulutnya. Melihatnya membuatku pusing dan berkunang-kunang. Entah apa yang terjadi setelah itu.
***
“Ini di mana?”
“Sayang, kamu sudah sadar?” kudengar suara mama yang sangat kukenal. Syukurlah aku tidak amnesia.
Lalu aku teringat sesuatu yang sangat penting.
“Reyhan mana?” tanyaku mulai panik “Reyhan mana, Ma? Dia selamat kan?”
“Sayang, kamu yang sabar ya.” Mamaku mengelus-ngelus kepalaku.
“Reyhan sudah pergi, Nak.” Papaku yang bicara kali ini.
Tak sanggup aku menahan air mataku. Aku pun menangis sejadi-jadinya. Orang yang selama ini menemaniku, membuat hidupku tenang, dan yang sangat aku cintai, telah pergi. Untuk selamanya.
***
“Risaa, lama amat beres-beresnya. Ayo cepetan dong !!” Eci membuatku kembali tersadar dari nostalgiaku. Kuusap air mata dari pipiku dengan cepat dan berlari kecil menuju tempat Eci menungguku dan bersiap menerima omelan cempreng darinya.
“Oops, ketinggalan.”
Aku bermanuver menuju ruang kerjaku lagi, dan mengambil foto itu. Foto Reyhan dan aku ketika kami di bukit. Tempat kenangan kami. Kami berdua tersenyum bahagia di dalam foto itu. Sangat bahagia.
Cepat-cepat kumasukkan foto itu ke dalam tasku dan kembali ke Eci.
“So…sori Ci. Tadi.. tadi ada barangku yang ilang. Makanya lama. Sori…sori ya.” Kataku sambil mengatur nafas setelah ebrlari dari ruang kerjaku.
“Ya udah. Ayo pulang. Capek nih badanku.”
“Eeeeh, kamu duluan aja. Aku mau pergi ke suatu tempat dulu.”
“Haaaah? Kenapa nggak bilang dari tadi siiiih? Tau gitu aku langsung cabut aja nggak pake nungguin kamu.”
“Yaa maaf Ci. Ini juga mendadak banget kok. Duluan ya.”
“Ya udah, Ris. Hati-hati.”
***
Terakhir kali aku ke sini, adalah saat seminggu setelah kematiannya. Kini aku duduk di depan nisannya, setelah beberapa tahun kulewati tanpa Reyhan.
“Aku tadi nemu foto kita, Rey. Foto pas kita do bukit itu lho, kamu inget kan? Kamu tau ngga sih, aku kangen banget sama kamu. Kenapa kamu ninggalin aku secepat ini? Apa kamu nggak sayang sama aku? Kamu nggak kasian ngeliat aku sedih terus ditinggal kamu?”
Saat itu pula kurasakan belaian tangan seeorang di pundakku.
“Ayo kita pulang. Udah sore.”
“Iya, Ma. Ayo pulang. Laper nih.”
Ya, kini aku sudah berkeluarga. Setahun setelah masa berkabungu kehilangan Reyhan, aku memutuskan untuk menikahi lelaki pilihan orang tuaku. Dan lelaki itu seorang dokter. Begita tahu bahwa aku tidak bisa punya anak, aku memutuskan untuk mengadopsi anak dari panti asuhan.
Dan anak kecil tadi? Itu anak angkatku, Reyhan. Dia kuadopsi dari panti asuhan saat dia baru berumur 3 bulan. Aku bahagia dengan hidupku saat ini, suami yang pengertian dan anak yang lucu sudah cukup untukku.
Tanpa sedikit pun melupakan nama itu dari hatiku. Reyhan.

3 komentar:

  1. nice one here :D great idea too :>

    BalasHapus
  2. sela, selalu sela --" terusin aja jadi noveeeel. ga cuma cerpen gitu doang :D

    BalasHapus
  3. hahaha makasih atas saran-sarannya. yaa kapan-kapan kalau ada waktu tak bikin novel hoho :p
    #lha cita-cita jadi dokter diganti novelis gitu? :O

    BalasHapus