entri ini aku tulis setelah baca buku "Sunset Bersama Rosie" karya Tere Liye. buku ini sedikit banyak--nggak, aku gak mau munafik, buku ini memberiku banyak--mengubah cara pandangku tentang apa itu kesempatan, keputusan, dan menerima dalam kehidupan yang sudah, sedang, dan akan kujalani. memutar pemahaman sempit dan dangkalku tentang segala tetek bengek kehidupan seratus delapan puluh derajat. entahlah, apa aku merasa lebih baik dengan pemahamanku yang baru, atau justru makin rumit lagi pemikiranku?
yang pertama, kesempatan. dalam buku ini diceritakan tentang seorang laki-laki yang tidak mau mengambil kesempatan yang sebenarnya bisa ia raih untuk memiliki sosok wanita yang ia cintai tanpa bayang-bayang siapa pun. laki-laki itu justru menjauh dan menghilang ditelan sesaknya ibukota, sementara sang wanita gelisah mencarinya dan selalu memikirkannya selama enam tahun mereka tak bertemu. ya, laki-laki itu di Jakarta, wanita itu beserta suaminya--suaminya adalah sahabat laki-laki itu sendiri--berada di Gili Trawangan. selama enam tahun, tanpa kabar, dan menurutku inilah kesalahan terbesar yang dilakukan laki-laki itu, ketika ia akan memiliki masa depan bahagia dengan calon tunangannya, ia malah menelepon wanita itu. membuat semuanya--harapan, asa, atau apapun itulah namanya--kembali tersirat dalam benak laki-laki itu. buku ini mengajariku bagaimana seharusnya kita bersikap pada kesempatan. KITA HARUS MEMBUAT KESEMPATAN ITU ADA, BUKAN MENUNGGUNYA. kalau kita menunggu kesempatan itu datang--dalam artian, benar-benar menunggu tanpa usaha--itu akan sia-sia. kita harus membuat kesempatan itu ada, dan sekecil dan sesulit apapun kemungkinan untuk membuat kesempatan itu ada, kita tetap harus berusaha mewujudkannya. berhenti menunggu orang lain memberimu kesempatan, namun jemput, raih, gapai kesempatan itu meski sangat sulit untuk mendapatkannya.
yang kedua, keputusan. buku ini menceritakan bagaimana laki-laki itu mengambil keputusan dengan segala pertimbangan dan akibat-akibat yang mungkin terjadi bila ia mengambil keputusan tersebut. aku juga mendapatkan sesuatu yang perlu kugaris bawahi dalam hatiku bahwa KEPUTUSAN ITU BUKAN UNTUK DISESALI, MAKA AMBIL KEPUTUSAN SEBAIK MUNGKIN agar tidak ada pihak yang merasa tersinggung, marah bahkan benci pada keputusan yang kita ambil. keputusan yang kita ambil juga bukanlah sekedar ucapan omong kosong, tapi juga sebagai tolak ukur untuk menilai bagaimana kita sebenarnya--bagaimana kita bersikap, berkata, sifat kita, semua akan tampak--bagi orang lain.dalam novel itu diceritakan, laki-laki itu memutuskan untuk menikahi wanita yang ingin dinikahinya--bukan Rosie, tapi wanita lain--agar ia dapat menghilangkan bayang-bayang Rosie dari hidupnya. meskipun ia merasa sangat berat dan sedih harus meninggalkan keempat anak Rosie yang luar biasa membanggakan, ia harus kuat kalau memang ia ingin menghilang dari kehidupan Rosie selamanya. namun hal itu justru membuka hati calon istri laki-laki itu untuk melepaskannya agar bisa bersama Rosie dan keempat anaknya kembali. inilah bagian cerita yang kusuka.
yang ketiga, menerima. sangat munafik rasanya bila kita mengatakan bahwa kita bisa menerima permintaan maaf seseorang atau kehilangan seseorang yang kita cintai dengan sangat ikhlas pada saat itu juga. begitu pula denganku, saat aku bercerita tentang seseorang yang kucintai pada sahabatku, dan ia menyarankanku untuk melepaskan laki-laki itu, tentu saja aku menolak mentah-mentah. mungkin saat itu paham kesempatan seperti di atas yang sedang kupegang erat-erat. namun ada kalanya harapan akan kesempatan itu tak sesuai dengan realita yang ada, atau tidak sesuai dengan kemampuan kita dalam menggapainya.maka ini saatnya untuk menerima. menerima kehilangan, kata maaf dari orang lain, bahkan menerima celaan dan kritik dari orang lain. dan menurutku yang paling berat adalah belajar untuk menerima kehilangan. kenapa kehilangan? karena menurutku kehilangan adalah suatu hal yang kita tidak tahu kapan datangnya, dan kita tidak akan pernah siap menghadapinya. termasuk saat kita memiliki kerabat atau orang yang kita cintai sedang berada dalam kondisi sekarat dan hidupnya sudah tidak ada harapan lagi, bahkan ketika dokter telah menyarankan kita untuk bersiap ditinggalkan, kita tidak akan pernah siap, walaupun saat belum ditinggalkan kita merasa siap menjalaninya. namun seringkali--untukku, selalu--saat peristiwa kehilangan itu terjadi, aku selalu menjerit dalam hati, kenapa harus sekarang, kenapa harus dia, kenapa tidak nanti-nanti saja? semua pertanyaan ini selalu berputar-putar layaknya roller coaster yang terus melaju dengan cepat dalam otakku. rasanya tidak menyenangkan, membuat sesak dan sakit kepala. tapi cepat atau lambat kita harus bisa menerima kehilangan itu, karena saat kita kehilangan satu hal penting dalam hidup kita, akan ada seribu hal baik lainnya yang datang menggantikan satu hal yang hilang sebelumnya.
setidaknya, inilah pemikiranku tentang buku tersebut dan bagaimana aku menyikapi, mengambil pelajaran, dan menyimpulkan apa-apa yang kubaca. semoga bermanfaat :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar