Sabtu, 26 Mei 2012

hanya ini yang ada di kepalaku

cerita ini mungkin sudah pernah, didongengkan pada semua orang di manapun dia berada, tapi entah kenapa aku selalu tersentuh saat mendengar maupun membaca cerita ini. banyak mengandung nilai moral yang kalau dijelaskan satu-satu tidak akan ada habisnya. aku harap bagi siapapun yang sudah atau belum pernah membaca cerita ini dapat mengambil hikmah dari sini. happy reading \m/ :D

Suatu hari di kota metropolitan yang penuh sesak dan polusi, ada seorang pria yang sangat terkenal di daerah tersebut. bukan karena ketampanannya--walau memang dia 'sedikit' tampan--andaikata tanpa rambut gondrong awut-awutan dan kumis tak terurus itu, bukan juga karena kepintaran atau ketangkasannya--bangku SMP saja dia tidak  pernah merasakannya. dia terkenal di kalangan pedagang asongan, kaki lima, pasar, lampu merah, dan lebih terkenal lagi di kalangan anak-anak jalanan dan pengemis-pengemis tua. saat pemuda ini lewat di depan mereka, suasana pasar yang ramai menjadi sepi senyap, kericuhan oleh celotehan anak-anak pengamen dan pengemis pun serasa sirna entah kemana. semuanya akan berjinjit menghindar, berusaha tidak terlihat, bahkan ada juga--banyak tepatnya--yang lari terbirit-birit sambil mengamankan uang hasil keringat mereka sepanjang hari. tidak ingin jerih payahnya seharian itu diambil begitu saja oleh pemuda tadi. bagi yang terlambat melarikan diri--orang-orang tua contohnya--jangan harap bisa pulang tanpa luka di tubuh mereka. uang hilang, badan pun remuk dibuatnya.

yap, pemuda itu adalah Adri, si preman pasar yang sudah tersohor entah sampai mana tingkat keterkenalannya

Saat itu matahari masih enggan muncul, padahal jam-jam di toko sudah menunjuk pada angka 8. pasar pun mulai ramai oleh penjual dan pembeli yang beradu teriak menjajakan maupun menawar harga barang. benar-benar hiruk pikuk suasana pada hari itu. hiruk pikuk yang menyenangkan. tapi semua itu sirna dalam sekejap saat, apalagi kalau bukan si Adri yang sudah bersiap merampas uang hasil dagangan para pedagang di pasar. memang ini terlalu pagi, tapi ia sudah merasa lapar dan haus, oleh karena itu ia segera memulai 'pekerjaannya' sebelum perutnya mulai meraung-raung lagi.

"serahkan uangmu !!! kalau kalian masih ingin barang dagangan kalian utuh pagi ini, sebaiknya jangan melawan !!!" Adri membentak seorang wanita paruh baya yang berjualan sayur mayur dengan aroma tajam alkohol menyertai bau mulutnya

"jangan bang Adri, itu untuk makan anak saya, anak saya masih kecil-kecil. lagipula, saya kan baru buka, jadi uang hasil berjualan hari ini masih sedikit sekali, nggak mungkin cukup untuk beli makan buat bang Adri."

"aaaah banyak bacot lu. tinggal kasih uangnya napa?!?!" kata Adri sambil menendang sayur mayur segar dan hijau berserakan hingga masuk selokan di sebelahnya. semua orang menahan napas, tidak mungkin sanggup bernapas dalam keadaan segawat ini.

dan uang itu pun berpindah tangan dengan mudahnya.

semua orang di pasar itu pun hanya bisa berdoa dalam hati, moga-moga bang Adri gak ke tokoku, moga-moga bang Adri cepet sadar, moga-moga bang Adri cepet mati, dan masih banyak moga-moga yang lain dari orang-orang di sana.

pandangan mata merah elang Adri--akibat terlalu banyak minum minuman keras semalam--menjelajah ke seluruh pasar, berusaha mencari mangsa selanjutnya. saat itulah ia melihat sepasang tua renta yang sepertinya asing baginya. memang, kedua tua renta itu baru pertama kali berjualan di sana.

tapi, ada yang ganjil pada pasangan itu. tunggu sebentar. ada yang tidak beres.

si kakek berbicara entahlah pada si nenek, sambil mengayun-ayunkan tangannya, menunjuk-nunjuk entahlah. karena bicaranya cepat dan tidak jelas, akhirnya hanya terdengar seperti ceracauan anak kecil. kakek itu berusaha berdiri, dibantu si nenek. nenek itu menuntun suaminya menuju pintu keluar, melewati Adri seperti tidak melihat apapun di depannya. berlalu begitu saja. semua orang terpana melihatnya. bagaimana bisa? apa kakek-nenek itu tidak tahu takut? udah nggak sayang nyawa kali ya? dan banyak lagi praduga yang lain.

ya, si kakek buta dan si nenek tuli. keduanya mengalami masalah dalam hal bicara. si kakek beruntung, masih bisa bicara lancar walau tidak bisa mengucapkan huruf-huruf tertentu dengan jelas. berbeda dengan si nenek, tidak bisa bicara sepatah kata pun. namun mereka berdua seolah-olah tidak peduli dengan kondisi mereka, bahkan pasangan ini terlihat kompak saat mulai membeber barang dagangan mereka di emperan toko. dan pasangan ini bahkan tak menyadari--atau sengaja membebalkan diri--kalau ada bahaya di depan hidung mereka.

"hei kalian berdua. serahkan uang kalian kalau kalian masih ingin berjualan besok !!!!"

"apa? apa kau bilang? menyerahkan uang kami? padamu? hahahaha simpan saja kata-katamu itu pada orang-orang bodoh lain, jangan katakan itu pada kami. kau kira kami takut? kau kira kami akan menyerahkan uang kami begitu saja dan lari terbirit-birit seperti yang dilakukan orang-orang itu selama ini? jangan harapkan itu dari kami, karena kami tidak bodoh."

semua orang terkejut, lebih-lebih Adri. berani-beraninya tua bangka ini mengatainya, pikir Adri marah. tanpa babibu lagi, tangan kekar dan legamnya mencengkeram kerah baju si kakek dan bersiap meninjunya, ketika kakek ini tanpa takut mencercanya lagi

"apa? kau mau memukulku? ayo, pukul saja aku, ayo. tunggu apa lagi. kau tahu anak muda? aku merasa kasihan padamu. bagaimana bisa seorang pria yang fisiknya sempurna, mata, hidung, mulut, telinga, tangan, kaki, semuanya kau punya, dan bisa kau pakai, menjadi pria yang menyedihkan seperti ini? kau persis seperti hewan buas yang tidak berotak, tapi dipaksakan masuk ke dalam tubuh manusiamu sekarang ini. benar-benar biadab. aku heran, kalau memang Tuhan itu ada, kenapa Dia tidak memusnahkan orang-orang sepertimu?" kata kakek itu kasar dan kemudian tertawa terbahak-bahak, menjengkelkan sekali mendengarnya.

Adri syok, tidak tahu harus berkata apa. bingung bagaimana menghadapi kakek-kakek sialan ini. tangan yang dari tadi mencengkeram kerah baju kakek itu mengencang. membuat kakek itu mulai kehabisan napas. pada saat yang sama, si nenek menggigit tangan Adri sekuat yang ia bisa, hingga berdarah, untuk membebaskan si kakek dari cengkeraman tangan Adri. pemuda itu mengumpat tak terkontrol dan membuat gaduh seisi pasar, oleh suara kesakitannya sendiri. sisanya? diam membisu memikirkan banyak hal yang terjadi di depan mereka saat ini. bahkan untuk sekedar mengambil napas pun sepertinya mereka enggan.

 kakek itu sepertinya tau apa yang istrinya lakukan. lalu dia tertawa semakin keras seraya berkata "kau lihat? kau ini sebenarnya banci, lemah, tapi terbungkus tubuh kekar. kau lihat sekarang? KALIAN LIHAT SEKARANG? bahkan kami, pasangan buta-tuli yang kalian anggap lemah, bisa membuat pemuda yang kalian bilang menakutkan ini berdarah-darah. coba kalian pikir, kalau kami yang buta-tuli saja bisa melakukannya, bagaimana mungkin kalian masih takut pada pemuda tidak beradab ini? kalian yang memiliki fisik sempurna, merasa takut pada pemuda ini? takutlah pada Allah. orang sialan ini," kakek itu diam sejenak, sambil menunjuk dahi Adri yang entah mengapa menunduk dalam saat itu, "tidak ada apa-apanya dibanding Allah. kenapa kalian harus takut padanya. takutlah pada Tuhan kalian, yang menciptakan kalian, yang MENCIPTAKANMU" kakek itu menekankan telunjuknya ke dahi Adri, kemudian mendorong kepala Adri ke belakang dengan telunjuknya. 

"kau dengar itu anak muda? kau tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi padamu kan? kau tidak akan pernah menyangka akan bertemu dengan kami yang mempermalukanmu di depan mangsa-mangsa harianmu kan?" kakek itu bertambah sarkas dan mengajak nenek pergi dari tempat itu. tapi baru selangkah mereka berjalan, si kakek membalikkan badan lagi, menghadapi Adri. mendekatinya, membisikkan sesuatu di telinga Adri.

"kau tahu Tuhan kan? kau pernah diajarkan untuk beriman padaNya kan? aku harap kau masih ingat semua yang pernah kau dapat selama ini, sebelum semua kemalangan ini, yang kau sebut kenikmatan ini, datang mengungkungmu. aku bisa mengerti kau lebih dari kau mengenal dirimu sendiri. kau kesepian, kau menderita, lukamu terlalu dalam dan sudah terlanjur bernanah dan sulit disembuhkan. aku bilang sulit, tapi belum tentu tidak bisa disembuhkan. kau bisa menyembuhkannya. caranya, mendekatlah padaNya. mohon pada Tuhan, minta pengampunan, selagi kau bisa. selagi kau hidup. selagi kau masih bisa berpikir layaknya manusia normal. aku yakin sebenarnya kau pemuda yang cerdas, tapi dirimu sendirilah yang membuatmu seperti ini. kau dengar aku kan? aku harap kau mendengarkan aku. selagi kau masih ingat Tuhan, ingatlah, dan MENDEKATLAH padaNya. selamat tinggal. semoga kita bisa bertemu lagi, dan aku tidak ingin bertemu denganmu lagi dengan tampang dan perangai seperti ini."

kakek itu pun berlalu. si nenek membimbing lengan si kakek dan hilang di tikungan jalan. masih belum ada yang berani bersuara. begitu juga Adri. ia hanya termenung, ditonton oleh puluhan orang di pasar. seketika Adri berlutut dan menangis, berteriak sekeras-kerasnya, seperti memarahi Tuhan, tapi nadanya memohon.

"Ya Tuhan, aku tidak tahu apa Kau akan memberi kesempatan padaku, setelah apa yang kulakukan selama ini. aku tidak tahu apa yang akan Kau lakukan padaku kelak. aku merasa malu. aku malu sekali ya Tuhan." Adri terus saja menangis dan berteriak-teriak. lalu dengan langkah kaki limbung ia meninggalkan pasar dan tidak ada yang tahu kemana ia pergi.

dua tahun berlalu sejak kejadian itu...

pesantren itu memang terlihat indah dan enak dipandang mata dari sudut manapun. terdengar sayup-sayup para santri yang sedang mengaji di dalamnya. salah satunya adalah Adri. ia terlihat jauh lebih tampan, dengan rambut digunting rapi, tanpa kumis, dengan baju koko sederhana, sarung, dan peci yang hinggap di kepalanya. sungguh jauh berbeda dengan dua tahun lalu. seperti melihat dua orang yang berbeda saja.

Adri memutuskan untuk mengubah hidupnya, secara total. langkah awal yang dilakukannya adalah menuju pondok pesantren tempat ayahnya dulu berada. sejak ayah dan ibunya meninggal, ia memutuskan untuk pergi dari kampung halamannya dan dimulailah hidup kelamnya di kota. sekarang Adri menjadi orang yang jauh berbeda. begitu santun, begitu bersahaja, begitu tulus pandangannya.

lihat sendiri kan? bagaimana kejadian yang tidak pernah disangka-sangka dapat mengubah kehidupan seseorang? yah inilah kehidupan. ada kalanya orang itu berada dalam jalan yang gelap, kosong dan tanpa apapun. tapi ada saatnya dimana kita harus bangkit dari kegelapan, melawan kekosongan hidup, mencari jati diri, dan lebih mengenal Tuhan kita. dengan begitu kita akan tahu, bahwa sebenarnya Allah menyayangi setiap makhluk hidup yang Ia ciptakan dengan cara yang tak akan pernah bisa kita tiru. Allah menyayangi setiap detail makhlukNya dengan cara yang berbeda-beda, seperti seorang guru yang memberi metode pembelajaran yang berbeda-beda pada setiap muridnya. yakinilah itu saudaraku, tetap berpegang teguhlah pada keyakinan dan keimanan itu :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar